хХх::[Dunia Remaja Indonesia]::хХх
MAAF, FORUM DUNIA REMAJA INDONESIA PINDAH KE http://nadakeras.taro.tv/forum

Situs/Web/Forum/Blog dan Komunitas Remaja (Indonesian Only)


You are not connected. Please login or register

Filsafat Rasionalisme

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down  Message [Halaman 1 dari 1]

1 Filsafat Rasionalisme on Thu 18 Jun 2009, 17:56

ralqis[was]here


[DRI] Pendiri
Filsafat Rasionalisme satu aliran
filsafat modern, yaitu empirisme. Kali ini saya akan menggali lebih
dalam tentang aliran kontra empirisme, taitu Rasionalisme. Rasionalisme
sangat bertentangan dengan empirisme. Rasionalisme mengatakan bahwa
pengenalan yang sangat sejati berasal dari rasio, sehingga pengenalan
inderawi merupakan suatu bentuk pengenalan yang kabur. Lebih detail,
Rasionalisme adalah merupakan faham atau aliran yang berdasarkan rasio,
ide-ide yang masuk akal. Selain itu tidak ada sumber kebenaran yang
hakiki.


Zaman
Rasionalisme berlangsung dari pertengahan abad ke XVII sampai akhir
abad ke XVIII. Pada zaman ini hal yang khas bagi ilmu pengetahuan
adalah penggunaan yang eksklusif daya akal budi (ratio) untuk menemukan
kebenaran. Ternyata, penggunaan akal budi yang demikian tidak sia-sia,
melihat tambahan ilmu pengetahuan yang besar sekali akibat perkembangan
yang pesat dari ilmu-ilmu alam. Maka tidak mengherankan bahwa pada
abad-abad berikut orang-orang yang terpelajar Makin percaya pada akal
budi mereka sebagai sumber kebenaran tentang hidup dan dunia. Hal ini
menjadi menampak lagi pada bagian kedua abad ke XVII dan lebih lagi
selama abad XVIII antara lain karena pandangan baru terhadap dunia yang
diberikan oleh Isaac Newton (1643 -1727). Berkat sarjana geniaal Fisika
Inggris ini yaitu menurutnya Fisika itu terdiri dari bagian-bagian
kevil (atom) yang berhubungan satu sama lain menurut hukum sebab
akibat. Semua gejala alam harus diterangkan menurut jalan mekanis ini.
Harus diakui bahwa Newton sendiri memiliki suatu keinsyafan yang
mendalam tentang batas akal budi dalam mengejar kebenaran melalui ilmu
pengetahuan. Berdasarkan kepercayaan yang makin kuat akan kekuasaan
akal budi lama kelamaan orang-orang abad itu berpandangan dalam
kegelapan. Baru dalam abad mereka menaikkan obor terang yang
menciptakan manusia dan masyarakat modern yang telah dirindukan, karena
kepercayaan itu pada abad XVIII disebut juga zaman Aufklarung
(pencerahan).

Tokoh-tokohnya
1. Rene Descartes (1596 -1650)
2. Nicholas Malerbranche (1638 -1775)
3. B. De Spinoza (1632 -1677 M)
4. G.W.Leibniz (1946-1716)
5. Christian Wolff (1679 -1754)
6. Blaise Pascal (1623 -1662 M)

MENGKAJI FENOMENA KESEHARIAN
Dari
sedut pandang pemikiran filsafat Rasinalisme tersebut, sekiranya saya
dapat mengambil contoh tentang logika di dalam agama. Dari salam satu
tulisan yang saya temukan di internet,
“Ada sebuah ungkapan,
terkenal dari tokoh besar di dunia Islam, Ibn Taimiyyah, yang arti
harfiahnya “Barang siapa menggunakan logika maka ia telah kafir”.”
demikian ungkapan tersebut. Apakah sikap seperti ini dapat dibenarkan?
Ataukah memang mutlak salah?
Apa implikasi jika sikap seperti ini dibenarkan?
Dan apa pula konsekuensinya jika ia mutlak salah?
Ataukah sikap seperti ini relatif, bisa benar sekaligus bisa salah secara bersamaan?
Dan apa-kah konsekuensinya jika kebenaran sikap seperti ini relatif?

Seperti
kita ketahui bahwa Logika adalah kaidah-kaidah berfikir. Subyeknya
akal-akal rasional. Obyeknya adalah proposisi bahasa. Proposisi bahasa
yang mencerminkan realitas, apakah itu realitas di alam nyata ataupun
realitas di alam fikiran. Kaidah-kaidah berfikir dalam logika bersifat
niscaya atau mesti. Penolakan terhadap kaidah berfikir ini adalah
mustahil (tidak mungkin). Bahkan mustahil pula dalam semua khayalan
atau “angan-angan” yang mungkin (all possible intelligebles).
Contohnya,
sesuatu apapun pasti sama dengan dirinya sendiri, dan tidak sama dengan
yang bukan dirinya. Prinsip berfikir ini telah tertanam secara niscaya
sejak manusia lahir. Tertanam secara kodrati dan spontan. Dan selalu
hadir kapan saja fikiran digunakan. Dan ini harus selalu diterima kapan
saja realitas apapun dipahami. Bahkan, lebih jauh, prinsip ini
sesungguhnya adalah satu dari watak niscaya seluruh yang maujud (the
very property of being). Tidak mengakui prinsip ini, yang biasa disebut
dengan prinsip non-kontradiksi, akan menghancurkan seluruh kebenaran
dalam alam bahasa maupun dalam semua alam lain. Tidak menerimanya
berarti meruntuhkan seluruh arsitektur bangunan agama, filsafat, sains
dan teknologi, dan seluruh pengetahuan manusia.

Maka sebagai
contoh ungkapan dari ‘Ibn Taimiyyah’ di atas, jika misal pernyataan itu
benar, maka menggunakan kaidah logika adalah salah. Karena menggunakan
kaidah logika salah, maka prinsip non-kontradiksi salah. Kalau prinsip
non-kontradiksi salah. Artinya seluruh kebenaran tiada bermakna, tidak
bisa dibenarkan ataupun disalahkan, atau bisa dibenarkan dan disalahkan
sekaligus.
Kalau seluruh keberadaan tidak bermakna, maka pernyataan
itu sendiri “Barang siapa menggunakan logika maka ia telah kafir” juga
naif. Tak bermakna. Tak juga perlu dipikirkan. Menerima kebenaran
pernyataan beliau tersebut sama saja dengan mengkafirkan beliau. Karena
jika pernyataan tersebut benar, maka untuk membenarkannya telah
digunakan kaidah logika. Dan karena beliau telah menggunakan kaidah
logika, menurut pernyataan-nya sendiri beliau kafir.

Jadi
sebaiknya pernyataan pengkafiran orang yang menggunakan logika ini
benar-benar ditolak. Pernyataan ini salah. Dan sangat Salah. Dan
mustahil benar. Karena kalau benar, semua orang yang berfikir benar
kafir. Dan ini mustahil.
Dilihat dari segi pandangan umum, Islam
jelas menentang adanya relativisme Kebenaran. Dalam Islam yang benar
pasti benar dan tidak mungkin salah. Sedang yang salah pasti salah dan
tak mungkin benar.

Penerapan kaidah-kaidah berfikir yang benar
telah menghantarkan para filosof (pecinta kebijaksanaan) besar pada
keyakinan yang pasti akan keberadaan Tuhan.

Jelas-jelas
penerapan logika bagi mereka tidak menentang agama. Malah sebaliknya,
me-real-kan agama sampai ke seluruh pori-pori rohaninya yang mungkin.
Atau dengan kata lain, mencapai hakikat.

Dalam dialog terakhir
Socrates, digambarkan betapa figur filsuf ini mati tersenyum setelah
menyebut nama Tuhan sebelum akhir hayatnya Alih-alih logika menentang
agama, malah logika adalah kendaraan “super-executive” untuk mencapai
hakikat kebenaran spiritual. Dan sekali lagi alih-alih logika menentang
agama, tanpa logika agama tak-kan dapat terpahami.

Jadi apakah Logika dalam Agama = kebenaran spiritual ?!


___________


Lihat profil user http://www.facebook.com/profile.php?id=100001069460412

2 Re: Filsafat Rasionalisme on Wed 08 Dec 2010, 18:53

Micheal douglas


[DRI] Teman Baru
[DRI] Teman Baru
contoh ungkapan dari ‘Ibn Taimiyyah’ di atas, jika misal pernyataan itu
benar, maka menggunakan kaidah logika adalah salah. Karena menggunakan
kaidah logika salah, maka prinsip non-kontradiksi salah. Kalau prinsip
non-kontradiksi salah. Artinya seluruh kebenaran tiada bermakna, tidak
bisa dibenarkan ataupun disalahkan, atau bisa dibenarkan dan disalahkan
sekaligus.

Lihat profil user

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas  Message [Halaman 1 dari 1]

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik